Ikuti Kami
Jam Operasional: 08:00 - 18:00 info@farmaku.com 0812 1600 1600

Moms, Ini Pentingnya Jaga Kesehatan Mental Anak Saat School from Home!

 15 Sep 2020 Kesehatan mental anak | School from Home



apa itu kesehatan mental


Tanpa terasa pandemi sudah berjalan lebih dari setengah tahun. Selama itu pula anak harus menjalani School From Home (SFH) atau pembelajaran jarak jauh demi menekan angka penularan. Penyesuaian kebiasaan baru ini tentunya memiliki tantangan tersendiri bagi anak-anak. Mereka yang terbiasa selalu berinteraksi dengan teman dan pergi ke sekolah mendadak harus diam di rumah seharian.

 

Banyak keluhan yang diungkapkan oleh orang tua karena merasa anaknya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik selama SFH. Selain itu, tanda-tanda kebosanan juga mulai ditunjukkan oleh anak sehingga berdampak pada tingkat konsentrasi mereka.

 

Moms, jangan anggap remeh kondisi ini karena bisa jadi anak sedang mengalami depresi. Gangguan kesehatan mental anak yang berkepanjangan dapat berakibat buruk pada masa depan mereka. Supaya tidak salah langkah, yuk simak berbagai informasi terkait kesehatan mental anak selama school from home di bawah ini.

 

Apa Itu Kesehatan Mental?

 

Kementerian kesehatan Indonesia mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi saat batin terasa tentram dan tenang, sehingga dapat memaksimalkan potensi diri secara maksimal. Kesehatan mental juga erat hubungannya dengan membangun relasi dan berinteraksi dengan orang lain. Umumnya, pengidap penyakit mental menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, memicu kehilangan orang terdekat, serta menurunkan performa saat di kantor maupun di sekolah.

 

Gangguan kesehatan mental dapat menyerang berbagai usia, termasuk anak-anak dan remaja.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, kesehatan mental anak merupakan salah satu pencapaian dalam tumbuh kembang anak yang penting diperhatikan. Anak yang sehat secara mental memiliki energi positif untuk berkegiatan di sekolah, rumah, dan komunitas; dapat mengendalikan emosinya, dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.

 

Ada banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami gangguan kesehatan mental, antara lain:

 

  • Faktor keluarga, seperti adanya riwayat gangguan kejiwaan pada keluarga.
  • Faktor biologis yang biasanya disebabkan adanya gangguan kimia pada otak atau mengidap penyakit yang berkepanjangan.
  • Faktor kejadian dalam kehidupan, seperti adanya trauma akibat kekerasan, lingkungan tempat tinggal, kemiskinan, diskriminasi, atau bencana alam.

 

Mengapa Kesehatan Mental Anak Penting untuk Dijaga?

 

kesehatan mental anak

 

Hingga saat ini, masih banyak orang tua yang belum menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental anak. Ditambah lagi tidak semua anak bisa mengekspresikan keresehannya sehingga orang tua menganggap anak baik-baik saja. Faktanya, mengetahui tingkat stres pada anak sangat penting karena dapat berdampak pada kemampuan bersosialisasinya di kemudian hari.

 

Sebagai orang tua, penting bagi Anda untuk memastikan pola asuh yang diterapkan pada anak sudah mendukung kesehatan mentalnya. Dampak positif dari menjaga kesehatan mental anak adalah buah hati akan memiliki pribadi yang positif dan siap menghadapi tantangan. Berikut 3 alasan pentingnya menjaga kesehatan mental anak:

 

1. Dapat bersosialisasi dengan baik

 

Salah satu ciri anak memiliki jiwa yang sehat adalah mampu menjalin hubungan yang baik dan menyenangkan dengan orang lain. Anak yang mengalami gangguan kecemasan, umumnya akan mengalami kebingungan ketika menghadapi permasalahan dengan sahabat atau kekasihnya. Akibatnya, anak akan mengalami stres dan cenderung menyalahkan diri sendiri.

 

Sebaliknya, anak yang sehat fisik dan mentalnya akan dengan mudah mengatasi berbagai tantangan dalam hidup. Mereka akan dengan mudah beradaptasi dengan bermacam-macam tantangan dan permasalah di kehidupan sosialnya.

 

2. Dapat mengelola emosi

 

Anak yang terjaga kesehatan mentalnya dapat mengatasi emosi yang sedang dihadapi. Mereka tidak akan mudah bosan karena mengetahui cara membuat perasaan kembali senang. Selain itu, anak yang sehat dapat berempati dan mengenali emosi yang dirasakan oleh orang lain, serta mampu belajar dari kegagalan.

 

3. Tidak mengalami tekanan dalam akademis

 

Memiliki anak berprestasi tentunya menjadi impian semua orang tua. Tapi jangan sampai keinginan Anda menjadi beban bagi anak. Tekanan akademis akan membuat mereka merasa enggan ke sekolah, sulit bersosialisasi, stres, dan memicu berbuat curang demi mendapatkan nilai.

 

Menjaga kesehatan mental anak di bidang akademis juga penting diperhatikan di tengah pandemi seperti ini. Menjalani SFH atau sekolah dari rumah memiliki tantangan tersendiri bagi anak karena kegiatan belajar-mengajar yang berbeda dari sebelumnya dan tidak bisa bertemu dengan teman untuk melepas penat. Supaya anak terbebas dari stres, berikut cara menjaga kesehatan mental anak selama school from home:

 

4. Ubah persepsi belajar

 

Belajar tidak melulu berkaitan dengan membaca atau menulis sambil duduk dengan rapi. Mengeksplorasi lingkungan sekitar pun bisa menjadi metode untuk menerapkan materi pelajaran. Sebagai contoh, Anda bisa mengajak anak mengamati kepompong saat anak sedang membahas mengenai metamorfosis di kelasnya.

 

5. Bangun suasana menyenangkan

 

Suasana school from home yang monoton akan membuat anak cepat bosan dan tidak dapat menangkap materi dengan baik. Maka sangat penting membangun suasana yang nyaman dan bebas stres. Ketika anak mulai jenuh, Anda bisa mengajak mereka beristirahat sebentar sembari menyanyi bersama atau olahraga ringan. Sebaiknya hindari memberikan gawai di tengah short break karena bisa membuat anak tidak ingin melanjutkan belajar dan ingin bermain dengan gadgetnya.

 

6. Melakukan kegiatan bersama

 

Berkegiatan dan belajar bersama memiliki banyak manfaat bagi anak maupun orang tua. Ajak anak untuk mengekspresikan perasaanya sehingga Anda dapat mengajarkan mereka cara menangani permasalahan tersebut. Jika anak mulai mengeluhkan rasa bosan di tengah sfh, cobalah untuk melakukan kegiatan yang bisa dilakukan bersama seperti menggambar atau menyanyikan lagu kesayangan buah hati.

 

7. Merencanakan kegiatan baru

 

Cara menjaga kesehatan mental anak di tengah sfh SFH juga bisa dilakukan dengan memberikan berbagai variasi kegiatan. Ketika anak sedang belajar berhitung sederhana di kelas, terapkan materi pelajaran sambil memasak dengan menambahkan bahan-bahan masakan. Di lain hari, Anda bisa mengajak anak belajar berhitung sambil merapikan mainannya.

 

Faktor-faktor Kesehatan Mental Anak saat Belajar dari Rumah

 

faktor kesehatan mental anak

 

Belajar dari rumah dapat memengaruhi kesehatan mental anak. Berikut ini faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental anak saat school from home.

 

1. Kegiatan yang monoton


Setiap hari anak dihadapi dengan rutinitas yang sama dan hampir tanpa variasi. Jika sebelumnya anak bisa menghilangkan kejenuhan dari suasana rumah dengan pergi ke sekolah dan bermain bersama teman, saat ini mereka menghabiskan waktunya hanya di rumah. Tentunya suasana ini menjadi pemicu stres ketika school from home.

 

2. Rindu akan suasana sekolah

 

Cukup banyak anak yang mengeluhkan rindu dengan suasana belajar mengajar di sekolah. Belajar bersama guru dan teman-teman secara tatap muka tentunya berbeda dengan school from home. Bagi mereka, sekolah memberikan suasana yang lebih menenangkan dan nyaman.

 

3. Merasa tertekan oleh orang tua


Situasi SFH tidak hanya sulit bagi anak, tapi juga orang tua. Kondisi ini memaksa orang tua untuk menjadi guru di rumah yang terkadang berujung pada situasi yang kurang menyenangkan. Orang tua merasa bahwa anak harus bisa memahami semua materi pelajaran saat itu juga. Padahal, menurut Kak Seto, ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), orang tua harus lebih fleksibel dalam kegiatan belajar mengajar di rumah dan lebih persuasif untuk mengajak anak selama SFH.

 

Apa Ciri-ciri Kesehatan Mental yang Baik?

 

apa ciri-ciri kesehatan mental yang baik

 

Semakin bertambahnya usia, anak yang mengalami gangguan kesehatan mental menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Biasanya ciri yang ditunjukkan berupa munculnya kesulitan dalam belajar, bersosialisasi, berbicara, maupun mengekspresikan perasaannya. Diagnosis tersebut sering terlihat saat anak sudah memasuki usia sekolah atau terkadang lebih awal.

 

Ketika anak sudah memasuki pendidikan formal, tanggung jawab yang diembannya semakin banyak dan lingkungan sosialnya semakin luas dengan berbagai karakter manusia. Jika tidak dapat mengatasinya, kondisi baru ini dapat memicu timbulnya kecemasan pada anak. Ditambah lagi saat ini anak harus menjalani kegiatan belajar mengajar secara daring yang memiliki tantangan tersendiri.

 

Untuk mengetahui apakah anak mengalami kejenuhan atau tidak selama school from home, Anda bisa memperhatikan tanda-tanda yang ada pada anak. Tidak semua anak bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik dan nyaman, maka orang tua harus peka terhadap berbagai perubahan pada diri anak. Berikut ciri-ciri anak memiliki kesehatan mental yang baik.

 

1. Emosi stabil

 

Anak dengan kesehatan mental yang baik akan menunjukkan sikap yang sopan dan stabil. Mereka tidak akan tantrum atau berdiam secara tiba-tiba tanpa ada alasan yang jelas.

 

2. Percaya diri

 

Anak akan merasa percaya diri ketika jiwanya sehat. Mereka tidak mengalami kecemasan berlebihan akan kondisi fisiknya atau kemampuan dirinya.

 

3. Ceria dan mudah bergaul

 

Mudah beradapatasi dengan lingkungan baru menjadi salah satu ciri anak tidak mengalami gangguan mental. Ini menandakan anak mandiri dan tidak bergantung pada orang tua. Selain itu, sikap positif dan ceria anak akan memudahkan mereka bergaul dengan orang lain.

 

4. Mudah belajar

 

Ketika anak tidak mengalami stres, mereka dapat dengan mudah berkonsentrasi dan menangkap informasi. Jika anak mulai kesulitan mengikuti pelajaran saat school from home, bisa jadi mereka mulai jenuh dan terganggu kesehatan mentalnya. Cobalah tanyakan perasaan anak untuk mencegah semakin parahnya perasaan stres yang sedang dihadapi.

 

5. Makan dengan lahap

 

Anak yang sehat fisik dan mentalnya biasanya tidak mengalami masalah dalam pola makan. Mereka akan dengan mudah menyantap hidangan yang disediakan. Namun, untuk menjaga kesehatan fisik dan mental buah hati, pastikan mereka mengonsumsi berbagai makanan sehat. Makanan yang baik dikonsumsi saat school from home adalah buah-buahan, sayuran, daging, kacang-kacangan, susu, serta makanan laut. Berikan anak suplemen Omega-3 untuk menunjang daya tahan tubuh dan meningkatkan kemampuan berkonsentrasi.

 

Baca juga: Yuk Ketahui Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak


Bagaimana Cara Membangun Mental Anak Agar Tetap Sehat?

 

Tips agak kesehatan mental anak tetap terjaga saat school from home

 

Menjaga kesehatan jiwa selama pandemi tidak hanya penting bagi orang dewasa, tapi juga anak-anak. Gangguan kesehatan mental yang berkelanjutan dapat mempengaruhi imunitas dan memicu terjangkitnya penyakit fisik. Tentunya menjaga kesehatan mental anak membutuhkan langkah-langkah khusus karena tidak semua anak bisa mengekspresikan kegelisahannya. Berikut 4 tips agar kesehatan mental anak tetap terjaga saat school from home:

 

1. Berempati pada anak


Sangat penting bagi orang tua untuk menjaga suasana rumah tetap positif selama kegiatan SFH. Cobalah untuk menanggapi setiap keluhan anak dengan sabar dan tenang. Menunjukkan ekspresi kesal saat anak sedang jenuh dapat memicu kerenggangan hubungan antara orang tua dan anak. Hal ini justru bisa berakibat menumpuknya perasaan stres dari kedua belah pihak.

 

2. Mendampingi anak saat kegiatan

 

Peran orang tua di tengah pandemi pun tidak mudah karena harus menjadi orang tua sekaligus guru. Namun, terkadang anak butuh didampingi dan diarahkan saat bermain demi memunculkan ide-ide kreatif. Jika Anda sibuk, ajaklah anak untuk berkegiatan bersama dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Dengan pengemasan yang tepat, aktivitas bebersih bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan.

 

3. Menghargai setiap pencapaian anak

 

Masing-masing anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Cobalah untuk menghargai setiap peningkatan yang anak lakukan meskipun hanya hal kecil. Ketika anak merasa dihargai atas usahanya, mereka akan merasa bangga dan senang untuk melakukannya kembali.

 

4. Bertukar pikiran dan emosi

 

Tidak semua anak bisa terbuka kepada orang tuanya. Membangun kepercayaan mereka pun membutuhkan waktu yang panjang serta pondasi hubungan yang kuat. Cara menjaga kesehatan mental anak yang bisa Anda terapkan adalah dengan sering berbagi cerita dan emosi satu sama lain. Memahami kondisi mental anak akan memudahkan Anda dalam mencari solusi jika terjadi gangguan kejiwaan pada buah hati.

 

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mental Orang Tua dan Anak Saat WFH

 

Bertahan di tengah pandemi merupakan tantangan bagi semua orang, terutama anak-anak yang mungkin belum memahami sepenuhnya kondisi saat ini. Perhatikan setiap perubahan pada anak karena bisa jadi itu merupakan tanda-tanda anak mengalami depresi akibat school from home. Jangan ragu untuk mencari bantuan psikolog atau psikiater jika gejala yang timbul mulai mengkhawatirkan.


Sumber:

 

  • Promkes Kemkes. Diakses pada Agustus 2020. Pengertian kesehatan mental.
    http://promkes.kemkes.go.id/pengertian-kesehatan-mental
  • Mental health. Diakses pada Agustus 2020. Children and young people.
    https://www.mentalhealth.org.uk/a-to-z/c/children-and-young-people
  • CDC. Diakses pada Agustus 2020. What are childhood mental disorders?
    https://www.cdc.gov/childrensmentalhealth/basics.html
  • CDC. Diakses pada Agustus 2020. Mental illness in children: Know the signs
    https://www.cdc.gov/childrensmentalhealth/basics.html




Bagikan artikel ini :




Kesehatan mental anak   School from Home