Ikuti Kami
Jam Operasional: 08:00 - 22:00
info@farmaku.com
0812 1600 1600

Mengenali 7 Mitos dan Fakta Seputar Asma yang Perlu Anda Tahu!

mitos fakta penyakit asma

Asma adalah peradangan pada saluran pernapasan yang ditandai dengan menyempitnya saluran pernapasan sehingga menimbulkan sesak. Gangguan pernapasan mengakibatkan penderitanya kesulitan atau bahkan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Bahkan pada beberapa kasus, asma bisa memicu terjadinya komplikasi yang berujung pada kematian.

Data pada bulan Agustus 2019, 36 juta kematian disebabkan penyakit tidak menular, seperti pernapasan kronis, kardiovaskular, diabetes, dan kanker. Maka sangat penting untuk menjaga kesehatan organ pernapasan dengan melakukan berbagai pencegahan dan perawatan yang tepat. Terlebih hingga saat ini masih cukup banyak mitos dan fakta mengenai asma yang beredar di masyarakat. Untuk mengetahui informasi lengkap terkait asma, yuk baca artikel di bawah ini!

Apa Penyebab Penyakit Asma?

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang bisa membuktikan mengapa seseorang bisa menderita asma. Namun, penyakit ini bisa menyerang penderitanya jika terpapar dengan benda-benda pemicu alergi. Beberapa penyebab sakit asma  yang sering menimbulkan reaksi alergi antara lain polusi, debu, asap rokok, bulu hewan, atau infeksi penyakit seperti flu.

Ketika terkena serangan, gejala asma yang umum terjadi adalah batuk, sesak pada area dada, mengi atau timbulnya suara tinggi saat menghirup udara, atau kesulitan bernapas. Dalam kondisi ini, saluran pernapasan akan mengalami penyempitan sehingga sirkulasi udara ketika bernapas akan terganggu dan mengakibatkan asma.

Tingkat keparahan asma juga bergantung dari gejala yang ditimbulkan. Untuk membantu proses pengobatan, the National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP) membagi asma menjadi 4 klasifikasi, yaitu:

  • Intermitten. Penderita asma jenis ini umumnya tidak mengalami gangguan dalam beraktivitas sehari-hari. Gejala yang ditimbulkan pun tergolong ringan dan hanya berlangsung 2 malam perbulan.
  • Persisten ringan. Gejala asma muncul lebih dari 2 – 4  malam dalam sebulan.
  • Persisten sedang. Gejala asma mulai muncul lebih sering, setidaknya 1 malam dalam seminggu.
  • Persisten berat. Penderita asma jenis ini akan mengalami gejala asma hampir setiap malam dan sudah harus membatasi berbagai aktivitas.

Baca juga: Langkah Aman Penderita Asma Agar Terhindar dari Covid-19

Apakah Penyakit Asma Menular?

Asma termasuk dalam penyakit tidak menular yang dipicu adanya kelainan patologis genetis yang membuat asma akan selalu menetap. Pada penderita asma ringan saat anak-anak, umumnya gejala asma akan hilang saat remaja dan kembali ketika memasuki usia lanjut. Sebaliknya, penderita asma berat cenderung akan terus terkena serangan ketika mengalami kontak langsung dengan faktor pemicunya.

Untuk mengetahui apakah seseorang menderita asma, dokter perlu dilakukan serangkaian tes. Pemeriksaan akan diawali dengan menanyakan tanda-tanda yang dirasakan, area tubuh yang merasakan sakit, frekuensi sesak napa, serta riwayat kesehatan keluarga. Jika hasil pemeriksaan terindikasi asma, maka akan dilakukan tes lanjutan, seperti:

  • Spirometri
  • Tes Arus Puncak Ekspirasi (APE)
  • Uji Provokasi Bronkus
  • Pengukuran Status Alergi
  • CT Scan
  • Rontgen

Apakah Asma Bisa Sembuh?

Salah satu mitos yang beredar di masyarakat adalah asma dapat disembuhkan. Asumsi ini muncul karena banyak pasien yang tidak lagi merasakan gejala asma setelah mengonsumsi obat. Faktanya, asma hanya bisa dikontrol dan tidak dapat disembuhkan.

Bentuk pengobatan dan perawatan asma perlu disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Asma yang sering ditemui adalah asma bronkial yang menyerang bronkus di paru-paru. Namun, ada juga tipe asma lain bergantung dari pemicunya.

  • Asma alergi: Pemicu alergen yang sering menyebabkan sesak napas antara lain bulu hewan, makanan, jamur, debu, dan serbuk bunga.
  • Asma non alergi: Iritasi yang timbul akibat non alergi, seperti asap kebakaran, asap rokok, polusi udara, air dingin, parfum, maupun debu pada perabotan.
  • Asma okupasional: Jenis asma yang timbul karena adanya polusi dan debu pada area kerja, antara lain karet lateks, debu, bahan kimia, atau gas. Penyakit ini banyak menyerang pekerja industri dan pertanian.
  • Asma olahraga atau exercise-induced bronchoconstriction (EIB). Hampir 90% pengidap asma pasti akan mengalami EIB, sebaliknya tidak semua yang terkena EIB menderita asma. Asma tipe ini disebabkan olahraga atau aktivitas fisik lainnya.
  • Asma nokturnal: Asma yang muncul saat malam hari akibat perubahan suhu yang lebih dingin dan lembab. Sesuai dengan namanya, asma ini menyerang ketika malam hari atau saat tidur dan dipengaruhi faktor biologis serta psikis tubuh.
  • Asma akibat aspirin: Dikenal dengan Aspirin-induced asthma (AIA) atau aspirin-exacerbated respiratory disease (AERD), asma tipe ini akan menunjukkan gejala beberapa saat setelah mengonsumsi aspirin, naproxen, atau ibuprofen.

Baca juga: Penyakit ISPA : Kenali Gejala dan Penyebabnya

Bagaimana Cara Menyembuhkan Asma?

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, perlu dilakukan pemeriksaan sebelum memulai pengobatan dan perawatan. Pada beberapa kasus, pasien diminta untuk melakukan pemeriksaan rutin minimal setahun sekali untuk memastikan asma sudah terkendali. Ada beberapa jenis obat yang biasa diberikan kepada penderita asma, yaitu inhaler dan obat oral.

Inhaler

Inhaler adalah obat yang dihirup melalui mulut untuk mengirimkan obat langsung ke dalam saluran pernapasan. Inhaler dianggap efektif menyembuhkan asma karena obat langsung menuju paru-paru. Pemberian inhaler akan disesuaikan dengan kondisi pasien dan tujuan pengobatan. Inhaler pereda digunakan untuk meringankan gejala asma saat serangan berlangsung. Sedangkan, inhaler pencegah berfungsi mengurangi sensitivitas dan peradangan pada saluran pernapasan.

Obat oral

Pemberian obat sakit asma sebaiknya dikonsumsi dalam pengawasan dokter karena dosis akan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Berikut jenis obat oral yang sering diberikan untuk mengobati asma:

  • Steroid oral. Obat steroid akan diresepkan oleh dokter spesialis paru ketika asma tidak kunjung sembuh setelah pengobatan jangka panjang. Steroid umumnya hanya diberikan untuk jangka waktu pendek karena konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping berupa hipertensi, pengeroposan tulang, berat badan meningkat, dan kulit menipis.
  • Tablet theophylline berfungsi untuk mencegah gejala asma dengan cara memperlebar saluran pernapasan dan melemaskan otot-otot di sekelilingnya. Teofilin tidak hanya diberikan pada penderita asma, tapi juga penyakit paru obstruktif kronis. Obat yang termasuk dalam teofilin antara lain Bufabron, Bufarkis, Neo Napacin, Luvisma, Retaphyl SR, Euphyllin Retard, Theobron, Kontrasma, Asthma Soho.
  • Ipratropium. Hampir mirip dengan teofilin, ipratropium juga berfungsi untuk melebarkan saluran pernapasan dan melemaskan otot-otot. Umumnya ipratropium diresepkan bagi penderita bronkitis kronis, namun bisa juga digunakan untuk mengatasi asma.
  • Omalizumab bekerja dengan cara menurunkan risiko terjadinya peradangan saluran pernapasan dengan cara mengikat protein. Omalizumab diberikan kepada penderita asma alergi dan asma berat yang sering mengalami serangan.

7 Mitos dan Fakta Penyakit Asma

Sampai saat ini, masih cukup banyak mitos dan fakta seputar asma yang beredar di Indonesia. Padahal, salah penanganan dapat mengakibatkan komplikasi dan kematian. Berikut 7 mitos dan fakta yang sering ditemui di masyarakat terkait asma:

  1. Penyakit asma bisa disembuhkan adalah mitos. Meskipun banyak pasien yang merasa sudah lama tidak mendapat serangan asma, namun faktanya penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Pengobatan dan perawatan hanya membantu mengendalikan gejala asma. Anda juga tidak perlu khawatir akan penularan asma karena penyakit ini termasuk dalam golongan tidak menular.
  2. Penggunaan inhaler dapat menimbulkan ketergantungan. Faktanya, justru inhaler adalah terobosan teknologi terkait dengan pengobatan asma. Penggunaan inhaler terbukti efektif karena obat langsung masuk ke saluran pernapasan dan meminimalisir efek samping.
  3. Asma adalah penyakit pernapasan, tidak termasuk ke dalam penyakit paru. Asma adalah penyakit yang menyerang bagian paru-paru yaitu alveolus. Maka untuk mengatasinya Anda perlu berkonsultasi kepada dokter spesialis paru.
  4. Sebelum melakukan pengobatan, segera rebahan ketika mendapat serangan asma. Metode ini adalah mitos yang sangat membahayakan penderita asma. Ketika terkena serangan asma, penderitanya justru dianjurkan untuk duduk sambil dilonggarkan pakaiannya dan diatur pernapasannya.
  5. Anak penderita asma pasti akan terkena asma. Meskipun banyak ditemukan kasus demikian, namun masih ada kemungkinan anak tidak menderita asma. Asma merupakan penyakit alergi dan sifat alergi inilah yang nantinya diturunkan kepada anak.
  6. Asma mudah kambuh saat di tempat lembab. Faktanya, tempat lembab sangat baik bagi penderita asma karena mengandung uap air tinggi yang membuat pernapasan lebih lega.
  7. Penderita asma tidak dianjurkan berolahraga. Bagi Anda yang memiliki asma, olahraga harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Umumnya, olahraga yang boleh dilakukan adalah jenis aktivitas ringan yang tidak terlalu melelahkan.

Mengingat asma adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan, maka sangat penting untuk selalu berkonsultasi kepada dokter sebelum mengonsumsi obat. Bahkan serangan asma bisa sangat fatal jika tidak segera ditangani. Segeralah ke dokter atau rumah sakit terdekat jika Anda merasakan napas pendek-pendek, sesak napas meskipun tidak banyak melakukan aktivitas fisik, serta tidak adanya perubahan setelah menggunakan inhaler. (NA)

obat sakit asma

Healthline. Diakses pada Oktober 2020. Asthma
https://www.healthline.com/health/asthma

P2PTM Kemkes. Diakses pada Oktober 2020. Mitos dan fakta tentang asma.
http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/mitos-dan-fakta-tentang-asma

Mayoclinic. Diakses pada Oktober 2020. Asthma.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/symptoms-causes/syc-20369653

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait Kesehatan