Ikuti Kami
Jam Operasional: 08:00 - 22:00
info@farmaku.com
0812 1600 1600

Ubah Social Distancing Jadi Physical Distancing? Inilah Alasan WHO!

Jumlah kasus positif covid-19, terus mengalami peningkatan, terutama sejak pemerintah melakukan test rapid. Rapid test corona adalah cara yang dilakukan untuk mengetahui infeksi virus corona secara cepat.

Hingga Jumat (27/3) total kasus corona di Indonesia mencapai 893 kasus. Dari jumlah tersebut, 780 orang dinyatakan positif, 78 meninggal dunia, dan 35 dinyatakan sembuh.

Baca Juga: Inilah Cara Penyebaran Virus Corona versi WHO, Pahami Dari Sekarang!

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah penyebaran virus ini, seperti kampanye #DiRumahAja yang terus digalakan di sosial media. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga telah menghimbau masyarakat Indonesia untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah selama 14 hari.

Kemudian, ajakan untuk melakukan social distancing selama pandemi virus corona. Sosial distancing atau menjaga jarak adalah istilah yang digunakan untuk melakukan pembatasan kegiatan penduduk dalam suatu wilayah. Hal ini bertujuan agar mencegah penyebaran virus corona yang mudah menular melalui tetesan kecil (droplet), yang dikeluarkan saat seseorang batuk atau bersin.

Apa alasan WHO ubah social distancing jadi physical distancing?  

Namun istilah social distancing, kini telah diubah menjadi physical distancing. Alasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengganti social distancing menjadi physical distancing karena untuk mengklarifikasi bahwa perintah tetap di rumah bukan berarti seseorang memutuskan kontak dengan orang lain secara sosial. Melainkan, dapat memperjelas himbauan WHO dalam menjaga jarak fisik agar penyakit covid-19 tidak semakin menyebar.

Dalam dokumen resmi WHO tentang Emergencies Press Conference on coronavirus disease outbreak, Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO Dr Maria Van Kerkhove mengungkapkan, bahwa physical distancing bukanlah menjaga jarak sosial, “Menjaga jarak fisik bukan berarti memutus hubungan sosial dengan orang yang dicintai dari keluarga kita.”

Karena dengan menjaga jarak fisik dari orang lain dapat membantu mencegah virus agar tidak berpindah ke orang lain. Maria juga mengatakan, teknologi sekarang ini sudah semakin maju, sehingga orang dapat tetap terhubung dengan banyak cara tanpa harus secara fisik berada di tempat yang sama.

“Kami berubah untuk mengatakan jarak fisik dan itu sengaja karena kami inginkan orang untuk tetap terhubung,” ujar Maria.

Baca Juga: Lakukan Isolasi Mandiri di Rumah? Berikut Protokol Isolasi dari Kemenkes!

Hal serupa juga disampaikan oleh spesialis penyakit menular dan profesor di Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas di University of Toronto, Dr.Jeff Kwong, “Istilah social distancing, saya pikir beberapa orang tidak mengerti artinya dan mereka khawatir hal tersebut dapat menyebabkan isolasi sosial. Jadi, kami menggunakan istilah ‘jarak fisik’, karena ini benar-benar tentang terpisah secara fisik. Namun, secara sosial kita tetap perlu bersatu, meski dengan cara virtual.”

Pentingnya kesehatan mental untuk melawan virus corona

Menjaga Kesehatan mental selama Physical Distancing

Dengan mengubah frasa social distancing menjadi physical distancing, diharap masyarakat global tidak lagi memutus kontak sosial dengan keluarga atau orang lain, melainkan hanya menjaga jaraknya secara fisik, karena kesehatan mental juga tak kalah penting dengan kesehatan fisik, terutama di masa pandemi Covid-19.

Baca Juga: 4 Olahraga yang Bisa Dilakukan di Rumah Selama Social Distancing

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam dokumen yang sama, mengungkapkan bahwa menjaga kesehatan fisik dan mental bisa membantu melawan Covid-19, bahkan setelah tubuh terinfeksi virus corona.

Untuk menjaga kesehatan mental seseorang di tengah wabah Covid-19, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Mulai dari membaca buku, mendengarkan musik, olahraga, dan lainnya.

who.int

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait Kesehatan