|

Empty Cart

Total:
Rp. 0 

Depresi Saat Hamil: Dampak dan Bagaimana Mengatasinya?

 05 Dec 2018




Momen memiliki anak adalah salah satu momen yang paling dinanti seorang Ibu. Namun bagi para Ibu yang menderita depresi saat hamil atau pasca melahirkan, momen ini justru menjadi saat yang paling stress dan menyulitkan secara mental.

 

Depresi pospartum adalah penyakit serius yang dapat disembuhkan. Seorang wanita yang mengalami depresi postpartum biasanya memiliki gejala seperti rasa sedih yang luar biasa, kecemasan, tidak nafsu makan, kurang energi, dan susah tidur. Bahaya depresi postpartum juga dapat mempengaruhi sang anak.

 

 

Mengenal Depresi Saat Hamil: Depresi Peripartum dan Depresi Postpartum

Depresi peripartum adalah depresi saat kehamilan, sedangkan depresi postpartum adalah depresi setelah melahirkan. Kehamilan adalah masa yang paling rentan bagi seorang wanita. Sering kali saat kehamilan, seorang wanita mengalami perubahan emosional, biologis, keuangan, ataupun kehidupan sosialnya.

 

Berdasarkan estimasi, 1 dari 7 wanita hamil menderita depresi peripartum.

 

 

Perbedaan Depresi Saat Hamil dengan Baby Blues

Pasca melahirkan, 70% wanita akan mengalami apa yang disebut “baby blues”. Apa itu baby blues? Baby blues adalah kondisi seperti depresi, namun hanya berlangsung sebentar saja dan tidak memerlukan pengobatan. Gejala baby blues biasanya berupa menangis sendiri tanpa alasan jelas, menjadi peka dan sensitif sehingga mudah tersinggung, gelisah, dan kecemasan. Tanda baby blues ini biasanya bertahan sekitar 1-2 minggu, dan akan hilang dengan sendirinya.

 

Depresi postpartum berbeda dengan baby blues. Jenis depresi dapat berlangsung berbulan-bulan dan sangat melemahkan penderitanya secara fisik dan emosi. Sangatlah penting penderita postpartum ataupun depresi peripartum untuk mendapatkan penanganan dan pengobatan medis.

 

 

Akibat Depresi Saat Hamil Bagi Ibu dan Bayi

Apakah depresi saat hamil mempengaruhi perkembangan janin?

 

Depresi saat hamil yang dibiarkan tidak hanya berbahaya bagi kesehatan dan kualitas kehidupan si Ibu, namun juga dapat mempengaruhi kesehatan sang bayi yang berpotensi terlahir secara prematur dengan berat badan yang rendah. Salah satu akibat depresi saat hamil yaitu masalah ikatan / bonding antara sang Ibu dan bayi yang dapat berpengaruh pada tidur dan aktivitas menyusui si bayi. Dalam jangka panjang, anak dari Ibu penderita depresi peripartum berisiko lebih besar mengalami ketertinggalan dalam perkembangannya, secara kognitif, emosi, berbahasa, dan kemampuan sosial.

 

Dampak depresi saat hamil bisa menjadi serius, karena akan menyebabkan sang Ibu merasa terisolasi, bersalah, dan malu. Seseorang dapat didiagnosa menderita depresi peripartum apabila gejala tidak hilang selama 4 minggu sejak pertama kali mengalaminya.

 

Banyak wanita yang menderita depresi saat hamil tua mengalami gejala berupa kecemasan yang luar biasa. Sebuah riset menunjukkan bahwa ? wanita dengan depresi peripartum akan mengalami gejala kecemasan ini.

 

Walaupun tidak ada uji diagnostik khusus untuk depresi peripartum, depresi ini adalah kondisi serius yang harus ditangani secara profesional. Penanganan pertama dapat berupa evaluasi psikiater dan evaluasi medis untuk melihat apakah kondisi mental atau fisik penderita benar-benar terkait dengan depresi peripartum.

 

 

Apa Saja Gejala Depresi Saat Hamil?

  • Kelelahan
  • Rasa sedih
  • Merasa tidak ada harapan
  • Nafsu makan berubah
  • Sulit fokus atau berkonsentrasi
  • Menangis tanpa sebab
  • Merasa dirinya adalah seorang Ibu yang buruk
  • Tidak merasa terikat dengan si bayi
  • Merasa cemas terhadap bayinya
  • Rasa kebahagiaan hilang dalam hidup

 

Seorang wanita yang menderita depresi peripartum biasanya mengalami beberapa dari tanda-tanda depresi saat hamil ini.

 

 

Kapan Seorang Ibu Depresi Saat Hamil Sebaiknya Menemui Dokter?

  • Bila mengalami beberapa gejala depresi peripartum seperti yang telah disebutkan di atas selama lebih dari dua minggu.
  • Ada pemikiran untuk mengakhiri nyawa sendiri atau menyakiti sang bayi
  • Memiliki kendala mengurus bayi dan juga kegiatan normal dalam kesehariannya.

 

 

Apa Saja Penyebab Depresi Saat Hamil?

Semua Ibu dapat mengalami gejala depresi peripartum atau setidaknya mengalami perubahan mood. Seorang wanita yang pernah mengalami depresi sebelum masa kehamilan, memiliki risiko lebih besar terkena depresi peripartum. Bila si Ibu memiliki riwayat keluarga yang pernah mengalami depresi, ia juga berpotensi mengalami depresi peripartum.

 

Masalah atau ketidakbahagiaan dalam hidup yang terjadi selama masa kehamilan juga dapat berperan sebagai faktor depresi peripartum.

 

Penelitian membuktikan adanya perubahan cepat pada hormon stress dan level tiroid saat kehamilan dan pasca melahirkan. Hal ini berdampak negatif pada suasana hati yang dapat berujung pada kondisi depresi peripartum.

 

 

Bagaimana Cara Mengatasi Depresi Saat Hamil?

Pengobatan depresi saat kehamilan sangatlah penting. Kesadaran dan pemahaman akan kondisi ini dapat membantu kesehatan Ibu dan bayinya.

 

Seperti depresi lainnya, depresi peripartum dapat diobati dengan psikoterapi, medikasi, perubahan gaya hidup, dan dukungan dari orang-orang terdekat. Apabila seorang wanita hamil ingin mengkonsumsi obat-obatan untuk membantu meredakan depresinya, diharapkan untuk melakukan konsultasi kepada dokter untuk mengetahui dampak antidepresan terhadap kesehatan dirinya serta janin.

 

Secara umum, risiko bayi terlahir cacat adalah rendah. Keputusan dalam menjalankan pengobatan depresi peripartum biasanya berdasarkan risiko dan keuntungan dari menjalani pengobatan.

 

American Psychological Association atau yang sering disingkat APA memiliki panduan dalam hal pengobatan wanita hamil yang mengalami depresi. Seorang yang menderita depresi saat hamil dengan tingkat sampai menengah, direkomendasikan menjalani psikoterapi tanpa bantuan obat-obatan sebagai pengobatan utama. Namun bagi wanita yang menderita depresi berat saat hamil, obat antidepresan direkomendasikan sebagai pengobatan utama.

 

Pilihan antidepresan untuk Ibu hamil menurut APA guidelines, yaitu:

  • SSRI (Selective serotonin reuptake inhibitors). Perlu diketahui, beberapa jenis SSRI telah menyebabkan masalah serius pada paru-paru bayi yang baru lahir. Harap konsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsi jenis antidepresan ini.
  • SNRI (Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors)
  • Wellbutrin (Bupropion)
  • TCA (Antidepresan Trisiklik)

 

 

Referensi

  1. Postpartum depression





Bagikan artikel ini :