|

Empty Cart

Total:
Rp. 0 

Post


Bahaya Kesehatan Social Smoking

  09 Oct 2018

Himbauan dan kampanye yang menyuarakan akan bahaya rokok sudah begitu banyak, namun apakah berhasil membuat jumlah para perokok berkurang? Sulit mengatakannya ketika data menunjukkan jumlah perokok aktif di Indonesia sudah melebihi 60 juta orang. Artinya, bila dibandingkan dengan total populasi orang Indonesia yang sudah mencapai angka 260 juta, kira-kira 1 dari 4 orang Indonesia adalah perokok.

 

 

Fakta tersebut sesuai dengan kenyataan bahwa rokok telah meresap ke berbagai kalangan, gender, dan usia. Anak yang masih berseragam sekolah pun sering terlihat sudah merokok, walaupun ada peraturan pemerintah No. 109 tahun 2012, pasal 25 ayat b, yang melarang penjualan tembakau kepada anak di bawah usia 18 tahun.

 

 

Layak untuk bertanya, apakah merokok telah menjadi sebuah gaya hidup, khususnya bagi orang yang tinggal di kota metropolitan? Dengan adanya beberapa golongan yang menganggap dirinya sebagai social smoker atau perokok sosial, jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin adalah "YA".

 

 

 

Menjadi Social Smoker Tidak Berbahaya, Benarkah? 

Social smoker atau perokok sosial adalah golongan perokok yang hanya merokok ketika mereka sedang dalam konteks bersosialisasi, seperti saat sedang bertemu dengan seorang teman, undangan makan, atau pada sebuah acara. Mengingat hal ini, mereka tidak merokok setiap hari dan boleh disebut, hanya jarang-jarang saja.

 

 

Mereka tidak seperti perokok aktif yang dapat menghabiskan satu bahkan dua bungkus rokok per hari. Perokok sosial hanya merokok sesekali. Mungkin kalau dihitung hanya beberapa batang per minggu. Tapi apakah menjadi seorang social smoker membuat kita jauh lebih aman dari risiko kesehatan yang disebabkan oleh rokok?

 

 

Merokok Lebih Sedikit, Apakah Lebih Baik?

Lebih irit? Ya, mungkin saja, namun lebih baik? atau lebih sehat? Tidak. Walaupun hanya merokok sesekali, seseorang tetap akan terekspos dengan bahaya jangka panjang dari merokok, seperti penyakit kanker dan jantung.

 

 

Hanya beberapa rokok per hari dapat meningkatkan bahaya terkena kanker paru-paru hampir tiga kali lipat. Selain kanker paru-paru, social smoker berpotensi mengidap belasan jenis kanker lainnya. Hal ini disebabkan karena merokok dapat merusak DNA pada sel-sel di dalam tubuh.

 

 

"Tapi semakin sedikit merokok, jumlah kerusakan atau mutasi DNA akan semakin sedikit, kan?"

 

 

Benar. Namun Professor David Currow, dari Institusi Kanker New South Wales di Australia tidak mendukung hal ini sebagai sesuatu keuntungan yang positif. Ia menjelaskan bahwa serangan kanker bukan soal sedikit banyaknya mutasi DNA yang terjadi. Seorang social smoker mungkin merokok lebih jarang dan mengalami mutasi DNA yang jauh lebih sedikit daripada seorang perokok aktif, tapi apabila mutasi DNA pada tubuhnya menghasilkan kombinasi yang cocok, ia dapat mengidap kanker.

 

 

 

Bahaya Kesehatan Lainnya untuk Seorang Social Smoker

Selain terpapar bahaya kanker, merokok dengan frekuensi apapun berdampak buruk terhadap kesehatan jantung. Sebuah studi menyimpulkan, seseorang yang hanya merokok sesekali memiliki tingkat risiko terserang penyakit jantung yang sama besarnya dengan para perokok aktif.

 

 

Tidak berhenti sampai di sini, semua jenis perokok akan berisiko terkena gangguan kesehatan lainnya, beberapa di antaranya:

  • katarak 
  • gangguan kesuburan
  • kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim)
  • tulang yang rapuh

 

 


Menjadi seorang social smoker atau perokok sosial tetap tidak menghindarkan seseorang dari risiko kesehatan. Perlu diingat, seorang social smoker juga cenderung lebih mudah untuk beralih menjadi seorang perokok aktif dan membuka dirinya kepada risiko kesehatan yang lebih buruk. Rokok memiliki senyawa yang sangat terkenal bernama nikotina, sebuah zat yang sangat adiktif. Seseorang yang telah kecanduan nikotina, akan sangat sulit untuk melepaskannya.

 

 

Strategi terbaik untuk terhindar dari segala risiko kesehatan akibat rokok adalah berhenti merokok atau jangan pernah mencobanya sama sekali.