|

Empty Cart

Total:
Rp. 0 

Post


Mengenal Penyakit Skizofrenia

  11 Oct 2018

Skizofrenia adalah gangguan mental serius, dimana seseorang yang mengalaminya tidak dapat membedakan antara realita dan khayalan. Skizofrenia dapat menyebabkan halusinasi, delusi, dan gangguan berpikir yang menyebabkan kelainan perilaku dan berbicara. Pengidap skizofrenia berpotensi untuk kehilangan fungsinya sebagai manusia secara utuh akibat gangguan berpikir dan motorik.

 

Seorang penderita skizofrenia memerlukan perawatan seumur hidup. Apabila penanganan dapat dilakukan lebih awal, gejala-gejala skizofrenia dapat dikendalikan, sehingga dapat mengurangi tingkat keparahan jangka panjang.

 

Pada masyarakat umum, skizofrenia sering disebut sebagai gangguan jiwa atau "kegilaan", dimana penderitanya akan sulit sekali mengontrol perilaku, perkataan, ingatan, dan pikirannya.

 

 

Gejala Penyakit Skizofrenia

Pengidap skizofrenia mempunyai masalah dalam mengendalikan emosi, pikiran, dan perilakunya. Tanda-tanda dan gejala skizofrenia bermacam-macam, namun biasanya skizofrenia memiliki gejala berupa delusi, halusinasi, dan berkata-kata dengan tidak wajar.

  • Delusi

    Delusi adalah kondisi dimana seseorang merasa atau meyakini sesuatu yang bukan kenyataan terjadi. Misalnya, merasa memiliki kemampuan terbang padahal tidak, merasa dipukul atau disakiti secara fisik oleh orang lain padahal tidak, merasa sedang menggendong seorang anak padahal tidak ada yang digendong, dan lain sebagainya.

  • Halusinasi

    Halusinasi adalah mendengar dan melihat sesuatu yang tidak nyata. Orang yang menderita skizofrenia dapat melihat dan mendengar hal-hal ini seperti orang normal.

  • Kelainan Berpikir dan Berbicara

    Skizofrenia akan menyebabkan seseorang kesulitan untuk berkomunikasi. Hal ini dikarenakan gangguan pada proses berpikir yang dialaminya. Seorang pasien skizofrenia umumnya memiliki gangguan bicara sehingga sulit dimengerti oleh orang lain.

     

  • Perilaku Abnormal

    Gejala lainnya dari skizofrenia adalah bertindak dan berfungsi tidak normal secara fisik atau motorik. Seperti tidak memiliki respon terhadap panggilan sama sekali, memiliki ekspresi wajah dan postur tubuh yang tidak wajar, dan seakan tidak memiliki emosi.

 

Gejala akan berbeda-beda tergantung dari tingkat keparahan skizofrenia yang dialami. Skizofrenia pada laki-laki umumnya mulai muncul pada sekitar usia 20-an, dimana skizofrenia pada wanita muncul saat memasuki usia 30 tahun. Kasus skizofrenia pada seseorang yang berusia 45 tahun ke atas sangat jarang terjadi.

 

 

Penyebab Skizofrenia

Hal yang mengakibatkan skizofrenia belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai penyakit ini, skizofrenia disebabkan oleh gabungan dari kelainan genetik, reaksi kimia pada otak, dan lingkungan sekitar.

 

Masalah pada sel kimia dopamine dan asam glutamat di otak, dapat berperan menyebabkan skizofrenia. Ada studi yang mengatakan bahwa penderita skizofrenia memiliki perbedaan sistem saraf dan struktur otak. Namun hal ini tidak dapat didukung sepenuhnya secara empiris dan sampai saat ini para peneliti dan ahli medis menyimpulkan bahwa skizofrenia adalah penyakit gangguan otak.

 

 

Faktor Risiko Skizofrenia

Walaupun penyebab skizofrenia tidak diketahui secara pasti, ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih berisiko terkena skizofrenia, antara lain:

  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat skizofrenia
  • Masalah saat masih di dalam kandungan, seperti malnutrisi dan virus yang dapat mengganggu perkembangan otak janin
  • Mengkonsumsi obat psikotropik pada saat remaja

 

 

Komplikasi dan Akibat dari Penyakit Skizofrenia

Apabila skizofrenia dibiarkan, penyakit ini dapat menyebabkan beberapa masalah komplikasi yang berpengaruh pada kehidupan penderitanya. Beberapa komplikasi dari penyakit skizofrenia antara lain:

  • Bunuh diri
  • Mencelakai atau melukai diri sendiri
  • Depresi
  • Perasaan khawatir kronik
  • Konsumsi obat-obatan terlarang, alkohol, dan rokok secara berlebihan
  • Tidak memiliki kemampuan bersosialisasi
  • Masalah kesehatan
  • Memiliki sifat agresif dan berbahaya bagi sekitarnya

 

 

Cara Mencegah Skizofrenia

Belum ada pengobatan khusus yang dapat mencegah terjadinya skizofrenia pada seseorang yang mulai menunjukkan gejala. Namun melakukan pengobatan dan perawatan lebih dini adalah cara terbaik untuk menghindari gejala skizofrenia menjadi semakin parah dan tidak terkendali.

 

 

Diagnosa Penyakit Skizofrenia

Pastikan gangguan mental dan pikiran yang terjadi bukan akibat dari konsumsi obat-obatan, kondisi non-medis, dan tindakan medis apapun yang sedang dijalani. Cara yang tepat untuk mendiagnosis skizofrenia adalah dengan mengunjungi psikiater dan ahli medis.

 

Dokter dan para ahli dalam bidang gangguan mental dapat memeriksa keadaan mental seseorang secara profesional. Mereka memiliki metode yang telah teruji untuk membuktikan bahwa gangguan mental dan pikiran yang dialami adalah murni gejala skizofrenia dan bukan dari pengaruh eksternal seperti obat-obatan dan tindakan medis ataupun non-medis lainnya.

 

 

Pengobatan Skizofrenia

Mengobati seseorang yang mengidap skizofrenia memerlukan perawatan yang berlangsung seumur hidupnya. Walaupun frekuensi gejala-gejala skizofrenia sudah jauh berkurang, perawatan dan pengobatan medis ditambah dengan terapi mental dapat mempertahankan kondisi positif ini.

 

Seorang pasien skizofrenia biasanya memerlukan penanganan dari berbagai pihak, seperti psikiater, pekerja sosial, dan perawat. Hal ini bertujuan untuk memberikan penanganan komprehensif terhadap penyakit skizofrenia secara medis maupun non-medis.

 

 

Obat Antipsikotik untuk Penyakit Skizofrenia

Biasanya dokter akan menganjurkan obat antipsikotik bagi pasien skizofrenia. Obat antipsikotik dapat meredakan dan mengendalikan gejala dengan mempengaruhi produksi dopamin pada otak.

 

Pengobatan dengan obat antipsikotik dapat mengurangi dan meminimalisir tanda-tanda dan gejala negatif akibat skizofrenia. Obat-obatan lain seperti antidepresan juga berpotensi membantu mengurangi gejala.

 

Antipsikotik generasi kedua umumnya lebih sering dianjurkan dokter karena memiliki efek samping yang lebih ringan daripada obat antipsikotik generasi pertama. Obat antipsikotik generasi kedua untuk pasien skizofrenia antara lain:

  • Aripiprazole (Abilify)
  • Asenapine (Saphris)
  • Brexpiprazole (Rexulti)
  • Cariprazine (Vraylar)
  • Clozapine (Clozaril)
  • Iloperidone (Fanapt)
  • Lurasidone (Latuda)
  • Olanzapine (Zyprexa)
  • Paliperidone (Invega)
  • Quetiapine (Seroquel)
  • Risperidone (Risperdal)
  • Ziprasidone (Geodon)

 

 

Bantuan dan Perhatian Kita kepada Penderita Skizofrenia

Merawat seorang pasien skizofrenia tidaklah mudah, khususnya apabila orang itu adalah anggota keluarga dekat atau orang tercinta. Perhatian dan kesabaran adalah yang hal utama yang harus dimiliki dalam menangani dan merawat pasien skizofrenia. Beberapa hal yang dapat menjadi tips dalam merawat pasien skizofrenia adalah:

 

  • Pelajari penyakit skizofrenia secara mendalam

    Mengerti penyakit skizofrenia secara menyeluruh dapat membantu dalam merawat seorang pengidap skizofrenia. Mempelajari gejala-gejala, pengobatan, diagnosa, and hal lainnya tentang skizofrenia dapat membantu kita untuk menjadi lebih terarah.

  • Mintalah bantuan

    Perawatan pasien skizofrenia tidaklah mudah. Mencari bantuan kepada yayasan atau para pekerja sosial dapat meringankan beban kita.

  • Fokus pada tujuan

    Pengobatan skizofrenia adalah proses jangka panjang. Terus bersabar dan kendalikan stress agar kita tidak patah arah dan menyerah.