Empty Cart

Total:
Rp. 0 

Kenali Penyakit Kusta: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

 25 Jan 2019



penyakit kusta


Penyakit kusta tergolong sangat berbahaya jika tidak segera ditangani. Hal ini diperburuk dengan sulitnya bagi orang awam untuk mendeteksi penyakit kusta karena gejala kusta hampir mirip dengan penyakit panu. Namun demikian, melalui diagnosis yang tepat dan pengobatan kusta sejak dini, penyakit kusta bisa disembuhkan.

 

Penyakit kusta dikenal juga dengan nama penyakit Morbus Hansen atau lepra. Penyakit kusta adalah infeksi kronis yang merusak jaringan saraf kulit, lapisan hidung, serta saluran pernapasan atas. Penyebab penyakit Kusta adalah bakteri Mycobacterium leprae yang ditularkan dari satu orang ke yang lainnya. Biasanya, penularan kusta terjadi melalui udara yaitu ketika penderita kusta batuk atau bersin di dekat orang yang sehat.

 

Meski demikian, tingkat penularan kusta tergolong rendah. Sebagai perbandingan, dari hasil studi yang dilakukan sejumlah orang yang terpapar bakteri Mycobacterium leprae, 95% dari mereka terbebas dari penyakit kusta dan hanya 5% yang akhirnya menderita penyakit ini.

 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada tahun 2017, ada sekitar 180.000 jiwa di seluruh dunia yang mengidap penyakit kusta. Kasus penyebaran penyakit kusta terbanyak berada di benua Asia dan Afrika.

 

Walaupun penularan kusta sangat rendah secara statistik, penyakit kusta tergolong penyakit berbahaya. Apabila gejala kusta tidak disadari, penyakit kusta akan berkembang dan menyebabkan kondisi yang tidak diinginkan pada pasien seperti kehilangan anggota tubuh, cacat permanen, kebutaan, kelumpuhan pada otot, dan infeksi kulit.

 

 

Apa Saja Penyebab Penyakit Kusta

Penyebab penyakit kusta yaitu bakteri Mycobacterium leprae yang masuk melalui saluran pernapasan. Bakteri yang sudah masuk kemudian akan menetap di dalam tubuh dan menunggu masa inkubasi. Masa inkubasi merupakan waktu yang dibutuhkan bagi bakteri untuk menginfeksi sampai mencetuskan gejala kusta. Masa inkubasi bakteri penyebab kusta ini dapat berlangsung sekitar lima tahun.

 

Dalam banyak kasus, walaupun seseorang terpapar bakteri penyebab penyakit kusta, tidak menjamin ia akan menderita penyakit ini. Dikarenakan sistem pertahanan atau kekebalan tubuh dapat melawan dan mencegah terjadinya infeksi penyakit kusta.

 

Penyebaran penyakit kusta sering kali terjadi melalui kontak antara penderita kusta dengan orang sehat. Penularan penyakit kusta dapat dimulai saat penderita kusta batuk atau bersin. Dari batuk atau bersin ini, bakteri penyebab penyakit kusta akan terbang melalui udara dan berpotensi dihirup oleh orang yang sehat.

 

 

Ciri ciri dan Gejala Kusta

Gejala penyakit kusta bisa dikenali dari perubahan bentuk, serta warna kulit. Pasien kusta akan mengalami mati rasa (baal) pada bagian kulit yang mengalami perubahan ini.

 

Akan tetapi, gejala kusta pada kulit sering disalahartikan sebagai penyakit panu. Akibatnya, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya sedang mengalami gejala kusta. Hal ini berpotensi mengembangkan penyakit kusta ini ke tahap yang lebih berbahaya.

 

Gejala penyakit kusta bisa dibedakan berdasarkan jenis kusta itu sendiri. WHO membagi penyakit kusta ke dalam dua kategori. Ciri-ciri penyakit kusta yang timbul juga berbeda satu sama lain.

  • Kusta multibacillary (Kusta basah): gejala kusta basah ditandai dengan munculnya lesi (jaringan abnormal di bagian tubuh) yang berjumlah lebih dari lima. Hal ini menyebabkan terjadinya penebalan pada kulit.
  • Kusta paucibacillary (Kusta Kering): Kusta jenis ini ditandai dengan munculnya lesi yang berjumlah lima atau kurang dan tidak ditemukan bakteri pada sampel kulit pasien. Gejala kusta kering hanya berupa bercak putih yang menyerupai penyakit panu.

 

Secara umum, gejala kusta bisa dikenali melalui perubahan kondisi-kondisi seperti:

  • Timbulnya lesi kulit dengan warna yang lebih cerah dari warna kulit sekitarnya.
  • Terjadinya pelemahan pada otot-otot.
  • Rasa kebas hingga mati rasa (baal) di lengan, pergelangan tangan, tungkai, atau telapak kaki.
  • Area tubuh yang terdapat lesi, kebal terhadap panas atau sentuhan.
  • Lesi yang tidak kunjung hilang dalam minggu bahkan bulan.

 

 

Diagnosis Penyakit Kusta

Dokter dapat memastikan seorang pasien mengalami penyakit kusta jika terjadi gejala kusta telah disebutkan di atas. Diagnosis penyakit kusta dapat diperkuat melalui pemeriksaan fisik dengan melihat langsung kondisi kulit pasien. Diagnosis bisa dilanjutkan dengan biopsi yaitu pengambilan sampel kulit atau jaringan saraf untuk dilakukan uji laboratorium.

 

Pemeriksaan penunjang lain yang bisa dilakukan dokter ialah uji lepromin. Pada pengujian ini dokter akan menyuntikkan bakteri penyebab kusta yang sudah mati ke lengan pasien. Setelah disuntikan, tubuh akan memberikan reaksi terhadap lepromin. Reaksi ini dapat dianalisa untuk menentukan penyakit kusta yang diderita oleh pasien tersebut.

 

Diagnosis penyakit kusta yang terlambat dapat mengakibatkan pada munculnya sejumlah komplikasi berupa pelemahan otot, kerontokan rambut baik alis maupun bulu mata, kerusakan saraf permanen di lengan atau kaki, tidak bisa menggerakkan lengan atau kaki, kebutaan, glaukoma, ketidaksuburuan, disfungsi ereksi, hingga gagal ginjal.

 

 

Pengobatan Penyakit Kusta

Saat ini penyakit kusta bisa diobati apabila gejala kusta dapat terdeteksi sejak dini. Penanganan penyakit kusta bisa dilakukan dengan terapi obat kusta ganda yaitu pemberian resep 2-3 jenis antibiotik pada penderita kusta dan dikonsumsi secara bersamaan.

 

Beberapa obat kusta yang digunakan untuk mengobati penyakit kusta antara lain clofazimine, dapsone, minocycline, ofloxacin, atau rifampicin. Konsumsi obat kusta umumnya bisa dilakukan dalam jangka panjang yakni hingga 1-2 tahun. Selain itu, dokter bisa memberikan obat-obatan lain seperti aspirin, prednisone, atau thalidomide untuk mengatasi peradangan.

 

Beberapa hal yang patut diperhatikan saat menjalani pengobatan penyakit kusta adalah:

  • Memberitahu dokter mengenai bagian tubuh yang terasa kebas atau mati rasa.
  • Hindari cedera atau luka, seperti terbakar, pada daerah tubuh tersebut.
  • Memberitahu dokter area kulit yang menimbulkan bercak, nyeri, dan mengalami kemerahan, serta jaringan saraf yang membengkak, atau apakah Anda mengalami demam. Semuanya itu adalah beberapa komplikasi penyakit kusta.
  • Jangan menghentikan pemakaian antibiotik dan obat kusta yang diberikan, kecuali hal ini disarankan oleh dokter.
  • Menghentikan pengobatan kusta di tengah-tengah terapi - walaupun kondisi dirasakan membaik - akan membuat bakteri penyebab kusta kembali berkembang.

 

Jangan biarkan bakteri penyebab penyakit kusta tumbuh dan berkembang. Jika tidak diambil tindakan, bakteri dapat menyebabkan kerusakan saraf dan dapat mengakibatkan kelumpuhan anggota tubuh. Pada kasus penyakit kusta yang tergolong parah, pasien bisa mengalami sejumlah kondisi seperti:

  • Mati rasa total atau baal pada anggota tubuh, sehingga prosedur amputasi harus dilakukan organ-organ seperti lengan atau kaki.
  • Ulkus kornea yang mengakibatkan kebutaan.
  • Alis mata berguguran.
  • Perubahan bentuk pada tulang hidung.

 

 

Pencegahan Penyakit Kusta

Penyakit kusta bisa dicegah dengan menghindari atau mengurangi frekuensi kontak dengan pasien kusta. Anda juga bisa menjalani perubahan gaya hidup yang lebih sehat bagi diri pribadi dan orang lain, yakni dengan menutup mulut ketika akan batuk atau bersin di tempat umum.

 

Selain itu, potensi bahaya penyakit kusta juga bisa dicegah dengan melakukan diagnosis sejak dini ketika gejala kusta terlihat atau sudah dirasakan.

 

 

 

Referensi:
NIH (2019). Leprosy.
NIH. Medlineplus (2017). Leprosy.
WHO (2015). Leprosy Elimination.
Gardner, S S. WebMD (2017). Leprosy Overview.
Sampson, S. Healthline (2018). Leprosy.

 

Sources:

https://www.who.int/lep/disease/en/

https://medlineplus.gov/ency/article/001347.htm

https://ghr.nlm.nih.gov/condition/leprosy






Bagikan artikel ini :