Ikuti Kami
Jam Operasional: 08:00 - 22:00
info@farmaku.com
0812 1600 1600

Cara Memarahi Anak Tanpa Melukai Hatinya

Cara memarahi anak dengan benar

Dalam masa tumbuh kembangnya, tidak jarang tingkah laku anak terkadang membuat orang tua geram. Beberapa kebiasaan yang sering memicu amarah antara lain menumpahkan air, membuang barang, ataupun membuat rumah berantakan. Padahal, aktivitas tersebut merupakan bagian dari perkembangan sensoris dan motorik anak. 

Namun, rasa lelah setelah bekerja dan beraktivitas seharian seringkali membuat orangtua tidak sengaja melampiaskan emosi kepada anak. Jika kebiasaan ini tidak diubah, bukan tidak mungkin akan berdampak pada kesehatan mental buah hati. Maka sangat penting untuk memiliki metode memarahi anak yang efektif sehingga tidak hanya nasihat dapat tersampaikan, tapi juga membentuk kebiasaan baik. Berikut berbagai tips terkait dengan memarahi anak yang penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Dampak Anak Sering Dimarahi?

cara mengatasi anak keras kepala

Ketika anak mulai menunjukkan sikap dan kebiasaan menentang aturan, orang tua meluapkan amarah untuk mendisiplinkan mereka. Cara ini juga dianggap ampuh untuk mengatasi anak nakal sekaligus mengajarkan apa yang baik dan buruk. Faktanya, sering memarahi anak justru dapat memberikan efek sebaliknya. Berikut berbagai dampak negatif dari memarahi anak:

1. Anak menjadi tidak percaya diri

Sering dimarahi akan membuat anak selalu melihat sisi negatif dari dirinya. Hal ini mengakibatkan mereka tidak percaya diri untuk melakukan sesuatu. Anak akan cenderung memilih berada di zona nyaman yang tidak akan memicu amarah orang tua.

2. Tumbuh menjadi anak yang pemarah

Salah satu tujuan orang tua memarahi anak adalah supaya mereka bisa mengikuti peraturan dengan baik. Namun, frekuensi marah yang berlebihan justru akan membuat anak jenuh dan ingin memberontak. Bercermin dari kebiasaan orang tua, mereka menganggap bahwa cara untuk menyampaikan pendapat adalah dengan amarah.

3. Menjadi anak yang tertutup dan pasif

Ketika sering dimarahi, anak akan takut untuk melakukan inisiatif karena menganggap apapun yang mereka lakukan selalu salah. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti semua keputusan dan ucapan orang tua. Hubungan yang renggang seperti ini akan membuat anak menjadi tertutup dan enggan berbagi emosi dengan orang tua.

4. Terganggunya fungsi berpikir

Tahukah Anda ketika anak dibentak dan dimarahi sambungan neuron pada sel otak akan terputus? Akibatnya anak sulit melakukan perencanaan, kurangnya kreativitas, sulit mengambil keputusan, dan tidak dapat menerima informasi dengan baik. Kerja neuron pun akan terganggu sehingga membuat proses berpikir menjadi lebih lambat.

5. Membuat anak merasa stres

Sering dibentak akan membuat anak merasa takut, sehingga produksi hormon stres (kortisol) akan meningkat. Sifat dasar anak yang masih lembut membuat mereka akan larut dalam kesedihan ketika sering dimarahi. Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin anak menjadi stres dan membutuhkan ahli untuk mengatasinya.

6. Timbulnya permasalahan fisik

Ketika pikiran sudah dipenuhi berbagai perasaan negatif, lambat laun kesehatan fisik pun akan terganggu. Anak akan merasa mudah khawatir dalam hal apapun. Pada saat ini lah berbagai gejala fisik seperti mual, keringat dingin, diare, daya tubuh melemah, sulit tidur, hingga sulit makan akan menyerang. Untuk mengatasi ini, anak bisa diberikan vitamin dan suplemen anak yang bermanfaat bagi imunitas mereka.

Baca juga: 10 Ide Olahraga untuk Anak yang Membuat Semangat Gerak!

Sikap yang Baik Saat Memarahi Anak

Meskipun sering memarahi anak bisa memberikan dampak negatif pada kesehatan fisik dan mental, tapi bukan berarti orang tua sama sekali tidak boleh melakukannya. Mendisiplinkan buah hati tetap penting untuk diterapkan demi mengajarkan mereka konsep baik dan buruk serta salah dan benar. Memarahi juga merupakan salah satu bentuk dari mendidik anak supaya mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik. Berikut sikap yang perlu dilakukan orang tua ketika memarahi anak:

1. Kendalikan emosi dan lakukan dengan tenang

Hindari memarahi anak dalam kondisi emosional karena dapat berujung pada bentakan. Anda juga akan menyesal ketika tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang dapat  melukai psikis anak. Cobalah untuk tenang dan mengendalikan amarah sampai emosi mereda sebelum menasehati mereka.

2. Validasi emosi anak

Anak usia dini belum dapat mengungkapkan emosinya dengan baik. Pada saat inilah Anda perlu memvalidasi emosi dengan cara mengakui perasaan yang sedang mereka alami. Kemudian jelaskan kepada anak mengapa sikap mereka memicu amarah Anda. Gunakan bahasa sederhana untuk menjelaskan sebab akibat dari perbuatan mereka. 

3. Dengarkan anak

Cukup banyak orang tua yang memaksa anak untuk mendengarkan mereka tanpa melakukan hal yang sama. Ketimbang harus meluapkan emosi, cobalah tanyakan kepada anak apa yang sedang mereka rasakan dan alasan mereka “berulah.” Bisa jadi tujuan awal mereka adalah ingin membantu, tapi motorik yang belum stabil membuatnya seolah sedang merusak.

4. Koneksi sebelum memberikan koreksi

Nasihat akan mudah diterima ketika Anda dan anak memiliki hubungan yang erat. Perbanyaklah quality time bersama buah hati dengan meluangkan waktu bersama, sering melakukan kontak fisik, atau berbagi perasaan.

5. Menjelaskan bagaimana sikap yang benar

Manfaat memarahi anak dapat dirasakan jika disampaikan dengan benar. Jelaskan kepada anak mengapa mendorong teman tidak baik dan cara yang benar untuk meminta jalan adalah dengan memintanya bergeser. Alih-alih menyalahkan, berikan nasehat anak yang baik seperti ini akan mudah dicerna oleh mereka.

Baca juga: Moms, Ini Pentingnya Jaga Kesehatan Mental Anak Saat School from Home!

Hal-hal yang Perlu Dihindari Saat Memarahi Anak

Sangat penting untuk tetap tenang ketika anak mulai memancing emosi Anda. Kesalahan yang sering dilakukan adalah memarahi anak dalam keadaan emosional. Akibatnya tanpa disadari Anda memberikan reaksi berlebihan, seperti berteriak, memukul, atau mengucapkan kata-kata kasar. Supaya hal-hal seperti ini dapat dihindari, berikut kebiasaan memarahi anak yang dapat berakibat buruk pada kesehatan mental mereka.

1. Berteriak atau menggunakan nada tinggi

Penelitian membuktikan bahwa melampiaskan amarah kepada orang lain akan membuat Anda semakin marah. Nantinya, anak yang terkena bentakan juga akan mengekspresikan amarahnya kepada adik atau teman. Jika kebiasaan ini tidak dihentikan, anak akan menjadi pribadi yang pemarah.

2. Tidak konsisten dalam disiplin

Memberikan peraturan yang jelas dan konsisten dalam menerapkannya sangat penting dalam proses mendisiplinkan anak. Selain itu, nasehat tidak akan berpengaruh jika Anda tidak mencontohkannya kepada mereka.

3. Memberikan penjelasan yang terlalu panjang

Anak-anak cenderung mudah kehilangan fokus di tengah diskusi yang panjang. Maka sangat penting dalam memilih kata-kata yang tepat saat sedang menasehati mereka. Pilihlah kalimat yang mudah dipahami anak dan langsung fokus pada poin yang akan disampaikan.

4. Menjadikan disiplin sebagai hukuman

Disiplin dan hukuman merupakan dua hal yang berbeda. Disiplin bertujuan untuk memberikan batasan dan membuat anak memiliki kebiasaan yang baik. Dengan menunjukkan kepada anak bagaimana cara mengatasi kesalahan tanpa amarah, tanpa Anda sadari anak pun belajar berinteraksi dengan orang yang memiliki kebiasaan buruk

5. Banyak menggunakan kalimat negatif

Jangan terlalu banyak menggunakan kata-kata negatif seperti jangan atau tidak ketika sedang memarahi anak. Sebaliknya, Anda dianjurkan memberikan afirmasi positif dengan cara menjelaskan sikap apa yang seharusnya dilakukan anak.

4 Cara Mengatasi Anak Keras Kepala

Mengatasi anak yang keras kepala tentu memiliki tantangan tersendiri. Anak cenderung melawan orang tua ketika keinginannya tidak terpenuhi atau ketika nasehat orang tua tidak sesuai dengan kemauannya. Kondisi ini seringkali memicu amarah karena menganggap anak membangkang dan sulit diberi tahu. Padahal, bisa jadi mereka sedang belajar makna kebebasan dan batasan dengan menguji reaksi orang tua.

Kebiasaan keras kepala juga bisa menjadi salah satu cerminan bagaimana orang tua bersikap sehari-hari. Maka, Anda harus berhati-hati dalam memberikan contoh di depan anak. Tidak hanya itu, metode memarahi anak keras kepala pun membutuhkan cara yang berbeda supaya mereka dapat luluh dan mengikuti aturan yang diberikan. Berikut cara efektif mengatasi anak keras kepala:

1. Dengarkan pendapat anak.

Komunikasi merupakan cara ampuh dalam mengatasi sifat anak yang keras kepala. Biasanya anak dengan pembawaan seperti ini akan sulit menerima masukan dan senang berdebat. Inilah mengapa Anda dianjurkan untuk mendengarkan cerita dari sisi anak sebelum memberikan nasehat.

2. Jangan memaksa

Anak keras kepala akan cenderung memaksakan kehendaknya dan memberontak saat diberikan nasehat. Cara ampuh mendekati anak keras kepala adalah dengan melakukan pendekatan emosional. Ketika hubungan batin sudah terjalin, anak akan mudah untuk menerima nasehat. 

3. Hadapi dengan kepala dingin

Memarahi anak keras kepala hanya akan memperburuk situasi. Pastikan Anda sudah dalam keadaan tenang ketika akan memberikan nasehat. Jika perlu, ambil jeda beberapa saat untuk meditasi sebelum bertemu dengan si kecil.

4. Biarkan anak belajar dari pengalaman

Bagi anak yang sulit diatur, terkadang nasehat tidak didengarkan dengan baik oleh mereka. Penelitian membuktikan bahwa cara paling tepat adalah membebaskan dan membiarkan mereka belajar dari kesalahan. Sebagai contoh, anak tidak mendengar arahan untuk menghindari genangan air di lantai supaya tidak terpeleset. Biasanya mereka akan tetap melewatinya dan fokus bermain air. Tapi ketika mereka jatuh berkali-kali, di sinilah mereka akan belajar dari pengalaman.

Dapat disimpulkan bahwa memarahi anak bisa memberikan manfaat positif dan dampak negatif bagi kesehatan anak. Namun, menasehati anak tidak dapat dilepaskan dari tumbuh kembangnya karena dapat mengajarkan mereka mengenai batasan-batasan dan peraturan. Namun, pastikan penyampaian nasehat dan amarah dilakukan dengan penuh kasih sayang dan penjelasan yang logis. Jika emosi anak cenderung tidak kunjung mereda, segeralah berkonsultasi dengan psikolog untuk mengetahui kesehatan mental buah hati. (NA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait Ibu & Anak