Empty Cart

Total:
Rp. 0 

Hipertensi (Darah Tinggi): Gejala dan Penyebab

 13 Mar 2019



hipertensi: gejala dan penyebab


Hipertensi adalah sebuah kondisi dimana adanya tekanan pada dinding pembuluh arteri yang cukup kuat. Apabila tidak diatasi, tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti stroke dan penyakit jantung.

 

Tekanan darah tinggi ditentukan oleh dua faktor, jumlah darah yang dipompa oleh jantung dan sempitnya pembuluh arteri. Semakin banyak jumlah darah yang dipompa jantung dan semakin sempitnya pembuluh arteri, akan semakin tinggi tekanan darah.

 

Lalu apa bagaimana dengan gejala hipertensi?

 

Anda sebenarnya mungkin dapat mengalami hipertensi selama ini tanpa memperlihatkan tanda atau ciri apapun, namun kerusakan terhadap pembuluh darah dan jantung terus berlangsung dan dapat diidentifikasi.

 

Hipertensi umumnya berlangsung selama bertahun - tahun dan dapat menyerang siapa saja. Penyakit hipertensi dapat didiagnosa dengan mudah oleh dokter dan Anda dapat langsung melakukan tindakan - tindakan pengontrolan yang disarankan oleh dokter.

 

 

 

Gejala Hipertensi Umum

Biasanya seseorang yang memiliki hipertensi tidak sadar bahwa ia sedang mengalaminya, hal ini karena penyakit hipertensi hampir tidak menunjukkan gejala atau ciri yang dapat dilihat. Bahkan ketika hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan hasil yang sangat tinggi, pasien hipertensi masih dapat terlihat sehat dan bugar.

 

Penderita hipertensi mungkin saja mengalami gejala seperti hidung berdarah (mimisan), kepala sering pusing, atau susah nafas. Namun gejala hipertensi ini umumnya tidak nampak pada pasien sampai hipertensi adalah pada tingkat yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa. Tanda - tanda hipertensi berbeda dari satu pasien ke pasien lainnya.

 

 

Kapan sebaiknya Anda mengunjungi dokter mengenai penyakit hipertensi?

Sejak usia 18 tahun, sebaiknya Anda melakukan pengecekan tekanan darah 1 - 2 tahun sekali. Saat Anda memasuki usia 40 tahun lebih dan Anda memiliki risiko atau riwayat darah tinggi, Anda disarankan untuk melakukan cek tekanan darah setidaknya 1 kali setiap tahun.

 

Apabila Anda telah didiagnosa memiliki tekanan darah tinggi dan memiliki risiko terserang penyakit kardiovaskuler, dokter akan menyarankan Anda melakukan tes pengukuran tekanan darah lebih sering.

 

 

 

Penyebab Hipertensi

Ada dua jenis penyakit hipertensi yang umum terjadi, primer hypertension dan secondary hypertension. Berikut adalah perbedaan di antara keduanya.

  • Primer hypertension. Tidak ada penyebab khusus yang dapat mengakibatkan seseorang mengalami kondisi hipertensi. Tekanan darah tinggi biasanya disebabkan oleh berbagai macam faktor yang telah terakumulasi selama bertahun - tahun.

  • Secondary hypertension. Beberapa pasien hipertensi mengalami kondisi tekanan darah tinggi akibat kondisi - kondisi kesehatan tertentu. Secondary hypertension cenderung muncul secara tiba - tiba dan menyebabkan kondisi tekanan darah yang lebih tinggi daripada primer hypertension.

 

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan secondary hypertension, antara lain:

  • masalah pada ginjal
  • gangguan kelenjar tiroid
  • cacat lahir
  • konsumsi obat - obatan tertentu, seperti pil KB, obat flu, obat dekongestan, dan narkoba (kokain dan amphetamine)

 

 

 

Faktor Risiko Penyebab Hipertensi

Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa di antaranya:

  • Ras. Hipertensi umum terjadi pada seseorang yang memiliki keturunan Afrika. Beberapa komplikasi hipertensi seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal juga lebih sering terjadi pada seseorang dengan ras ini.

  • Riwayat keluarga. Salah satu faktor risiko penyebab hipertensi adalah riwayat atau sejarah keluarga. Seseorang lebih mungkin mengalami hipertensi apabila ada anggota keluarga dekatnya yang mengalami hipertensi.

  • Usia. Risiko mengalami tekanan darah tinggi semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Pria cenderung mengalami tekanan darah tinggi saat memasuki usia 64 tahun, dimana wanita saat memasuki usia 65 tahun.

  • Kegemukan atau obesitas. Semakin berat badan seseorang, semakin besar suplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Alhasil, volume darah yang membawa oksigen dan nutrisi penting dari makanan akan semakin bertambah. Sayangnya, hal ini juga akan berdampak pada tekanan terhadap dinding pembuluh arteri.

  • Kurang olahraga. Seseorang yang jarang berolahraga cenderung memiliki detak jantung yang lebih tinggi. Semakin tinggi detak jantung, artinya semakin berat kerja jantung dan semakin kuat tekanan yang diberikan pada arteri.

  • Merokok. Kebiasaan menghisap tembakau tidak hanya meningkatkan tekanan darah dengan segera, namun juga merusak lapisan pembuluh arteri. Hal ini akan menyebabkan semakin tipisnya pembuluh arteri dan risiko serangan jantung akan meningkat.

  • Terlalu banyak mengkonsumsi garam (sodium). Terlalu banyak garam di dalam tubuh, akan menyebabkan tubuh cenderung mempertahankan cairan. Kelebihan cairan dalam tubuh dapat meningkatkan tekanan darah.

  • Kekurangan potassium. Potassium dapat menyeimbangkan kadar garam atau sodium dalam darah. Jika kita kekurangan sodium, tubuh kita cenderung akan mengalami kelebihan sodium.

  • Mengkonsumsi alkohol berlebihan. Apabila seseorang mengkonsumsi terlalu banyak alkohol, tekanan darahnya dapat meningkat. Kelebihan minum alkohol dalam jangka waktu lama juga dapat dapat merusak jantung dan organ hati.

  • Stress. Saat stress, tubuh kita akan melepaskan hormon kortisol. Hormon ini diketahui mempengaruhi keseimbangan elektrolit dan cairan dalam tubuh, sehingga tekanan darah dapat meningkat. Banyak kasus serangan jantung sering diasosiasikan dengan meningkatnya level kortisol dalam tubuh.

  • Kondisi kesehatan kronis tertentu. Beberapa kondisi dapat menyebabkan meningkatnya tekanan darah, seperti gangguan ginjal, diabetes, dan sleep apnea (masalah tidur mendengkur).

  • Kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan sering disebut sebagai hipertensi gestasional. Hipertensi saat hamil ini biasanya muncul pada minggu ke-20 masa kehamilan. Umumnya, hipertensi gestasional akan setelah melahirkan.

 

Walaupun kondisi tekanan darah tinggi lebih sering dialami orang dewasa, anak kecil pun dapat mengalami hipertensi. Umumnya, hipertensi pada anak kecil disebabkan oleh masalah pada ginjal dan jantung mereka. Selain itu, gaya hidup yang tidak sehat, diet buruk, obesitas, serta kurangnya aktivitas olahraga adalah faktor risiko penyebab hipertensi pada anak - anak.

 

 

 

Komplikasi Hipertensi

Tekanan yang berlebihan pada dinding arteri dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan berbagai organ tubuh. Semakin lama berlangsungnya kondisi hipertensi, semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan.

 

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi berikut ini:

  • Serangan jantung dan stroke. Kondisi hipertensi dapat menyebabkan penebalan arteri (aterosklerosis). Hal ini dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

  • Aneurisme otak. Tekanan darah yang meningkat dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi lemah. Pembuluh darah yang lemah semakin lama akan membesar. Apabila pecah, aneurisme otak dapat membahayakan nyawa penderitanya.

  • Gagal jantung. Untuk melawan besarnya tekanan yang terjadi pada pembuluh darah, jantung harus bekerja lebih keras dalam memompa darah. Lama kelamaan, kondisi ini dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri yaitu penebalan pada dinding bilik jantung sebelah kiri yang memiliki tugas memompa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Apabila dinding bilik kiri jantung semakin tebal, kemampuan memompa jantung akan semakin menurun. Kenyataan ini dapat berujung pada terjadinya gagal jantung.

  • Sindrom metabolik. Sindrom ini dapat mengakibatkan berbagai masalah seperti meningkatnya kadar trigliserida dalam darah, menurunnya kadar HDL ( High-density lipoprotein), dan meningkatnya kadar insulin. Sindrom metabolik dapat menyebabkan seseorang menderita diabetes, serangan jantung, dan stroke.

  • Gangguan pada ingatan. Kondisi hipertensi yang tidak diatasi dapat mempengaruhi kinerja seseorang dalam mengingat, belajar, dan memahami sesuatu.

  • Demensia. Pembuluh arteri yang menyempit dan terhalang dapat membatasi aliran darah yang menuju otak. Apabila dibiarkan, demensia vaskuler dapat berkembang.

  • Pembuluh darah yang menyempit dan melemah pada ginjal. Hal ini dapat mencegah ginjal untuk bekerja secara sempurna.

  • Pembuluh darah yang robek, menipis, atau menebal pada mata. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan sampai kebutaan.

 

 

Baca selanjutnya: Bagaimana diagnosis hipertensi?

 

 

Sources

 

Mayoclinic.High blood pressure.2018.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/symptoms-causes/syc-20373410






Bagikan artikel ini :