Ikuti Kami
Jam Operasional: 08:00 - 22:00
info@farmaku.com
0812 1600 1600

Informasi A-Z Tentang Kesehatan Mental

Kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan seseorang berpikir, berempati, berperilaku, serta berinteraksi dengan orang lain. Kendati di Indonesia kesehatan mental masih belum menjadi prioritas, tapi perlahan mulai banyak yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan psikologis.

Kondisi mental akan mempengaruhi seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa penanganan yang tepat, kesehatan mental dapat berdampak pada kondisi fisik, seperti sakit kepala, mual, hingga kelelahan. Penting untuk mengetahui faktor yang bisa mempengaruhi kondisi mental serta cara mencegahnya demi terhindar dari gangguan kejiwaan.

Faktor yang mempengaruhi kesehatan mental

menjaga kesehatan mental


Menurut ahli kesehatan Merriam Webster, kesehatan mental merupakan keadaan emosional dan psikologis yang baik sehingga mampu memanfaatkan kemampuan kognitif dan emosi, bermanfaat bagi komunitas, dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk menghindari terkena gangguan kesehatan mental, sangat penting untuk mengetahui faktor kesehatan mental yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang. Berikut beberapa faktor yang bisa berdampak pada kesehatan mental:


Biologis

Faktor biologis dipengaruhi dari genetik, fisik, otak, sensorik, dan kondisi saat kehamilan.

Psikologis

Faktor psikologis disebabkan ikatan emosional seseorang dengan keluarga atau teman, kemampuan kognitif saat belajar, serta emosi yang belum matang. Hal-hal yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis antara lain:

  • Kehilangan
    Rasa kehilangan muncul ketika orang terdekat meninggal, hubungan dengan pasangan berakhir, keguguran, kehilangan pekerjaan, atau ketika terpisah dari teman dan keluarga. Ketika menghadapi salah satu kejadian tersebut, maka selanjutnya akan muncul rasa sedih syok, marah, dan menyesal. Setiap orang memiliki cara dan waktunya sendiri untuk menyembuhkan duka. Terkadang butuh waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan beberapa tahun. Sebelum perasaan ini mengganggu kesehatan mental, hubungi orang terdekat untuk mendapat dukungan. Jika perlu, bisa mencari bantuan profesional untuk berdamai dengan perasaan kehilangan.
  • Kekerasan dalam keluarga
    Kekerasan dalam lingkungan keluarga tidak hanya berupa kekerasan fisik, tapi juga psikologis berupa terlalu mengontrol kehidupan sosial, ketidakadilan finansial, dan kekerasan verbal. Terjebak pada situasi ini dalam jangka waktu lama bisa membuat seseorang mengalami gangguan mental seperti stres pasca-trauma.
  • Kehilangan pekerjaan
    Kehilangan pekerjaan, menganggur, kehilangan bisnis, dan rugi dalam investasi mengakibatkan finansial terganggu. Ketika keuangan tidak stabil, sangat normal muncul gejala sulit tidur, mudah marah, rasa malu, dan kehilangan arah yang makin lama akan membuat emosi tidak teratur.
  • Sosial Budaya
    Faktor sosial budaya dipengaruhi kesehatan dalam budaya, seperti status sosial, hubungan dengan keluarga, hubungan sosial, dan konflik sosial. Bahkan kondisi sosial budaya yang tidak sehat semakin berkembang ke ranah digital dengan munculnya hujatan dari warga-net.
  • Mengalami perundungan
    Hidup di era digital membuat seseorang dengan mudah melakukan perundungan secara online dan bersembunyi dibalik akun media sosial. Beberapa tahun terakhir semakin sering muncul berita tentang dampak buruk dari perundungan online. Ketika seseorang terus menerus mengalami perundungan fisik dan verbal, ia akan merasa tidak berdaya dan kesepian. Hari-harinya akan dipenuhi pikiran apakah besok ia akan mengalami hal yang sama dan apakah akan berdampak semakin buruk jika melaporkan kejadian tersebut.
  • Kesepian dan Isolasi Sosial
    Kesepian merupakan perasaan sedih ketika sedang sendirian dalam jangka waktu panjang. Sedangkan isolasi sosial merupakan situasi saat terpisah dari komunitas dan lingkungan. Banyak hal yang bisa membuat seseorang terjebak dalam kondisi tersebut, antara lain meninggalnya orang terdekat, hubungan tidak sehat dengan keluarga, gangguan kesehatan fisik keluarga, pensiun, dan kehilangan tujuan hidup.
  • Lingkungan
    Lingkungan yang positif dapat memberikan dampak baik bagi jiwa, sedangkan tinggal di lingkungan penuh polusi dan berisik tanpa disadari akan mempengaruhi kesehatan mental.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mental Orang Tua dan Anak Saat WFH

Konsep Kesehatan Mental Menurut WHO

faktor yang mempengarui kesehatan mental

Ketika berkonsultasi dengan dokter, akan muncul diagnosis gangguan kesehatan apa yang dialami pasien. Ada beberapa jenis gangguan mental yang memiliki gejala berbeda-beda. Konsep kesehatan mental menurut WHO sendiri ada 3 jenis, yaitu:


Depresi

Depresi menyerang lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia. Gejala depresi berupa rasa sedih yang terus-menerus, kehilangan semangat dalam beraktivitas, kelelahan, hingga gangguan tidur dan nafsu makan. Depresi dapat berlangsung lama atau berulang secara dramatis sehingga mempengaruhi seseorang dalam berkegiatan. Beberapa penyebab depresi adalah faktor sosial, psikologis, biologis, trauma akan peristiwa saat anak-anak, rasa kehilangan, dan menganggur.

Depresi sedang dan berat dapat diobati dengan perawatan psikologis dan farmakologis. Sayangnya, 76-85% penderita depresi di negara berkembang masih belum memiliki akses berobat karena kurangnya layanan dan dukungan.


Psikosomatis dan Bipolar

Gangguan bipolar merupakan penyakit kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati. Penderita akan merasa sangat sedih pada momen tertentu, kemudian menjadi sangat senang pada periode lainnya. Sedangkan psikosomatis merupakan munculnya penyakit fisik yang diperparah oleh kondisi mental, seperti stres dan rasa cemas.

Baca Juga: Apakah Gangguan Psikosomatis Bisa Disembuhkan?


Gangguan mental anak dan remaja

Statistik WHO menunjukkan bahwa 10-20% anak-anak dan remaja mengalami gangguan kejiwaan pada usia 14 tahun dan usia 20-an. Jika tidak ditangani secara serius, akan berdampak pada turunnya produktivitas dan hilangnya potensi pada diri.

Data WHO tentang kesehatan mental

data who tentang kesehatan mental

Pentingnya kesehatan mental menjadi perhatian WHO karena setiap 40 detik ada satu orang meninggal karena bunuh diri dengan rentang usia 15-29 tahun. Pada usia tersebut, rata-rata manusia sedang mencari jati diri sehingga kondisi emosinya pun masih belum stabil. Selain itu, penyebab meninggal lainnya adalah depresi setelah melahirkan pada wanita. Di negara dengan penghasilan tinggi, jumlah pria yang melakukan bunuh diri tiga kali lipat dari wanita. Sebaliknya, di negara berpenghasilan menengah ke bawah jumlah antara pria dan wanita cenderung sama.

Data WHO pada tahun 2017 menunjukkan gangguan mental menjadi kontributor tertinggi penyebab kematian di global dan Asia Tenggara. Di tahun 2016, di Indonesia rasio kematian prematur akibat bunuh diri dari WHO menunjukkan angka 3:100 ribu penduduk, yang berarti sekitar 8.000 dari 260 juta jiwa penduduk Indonesia mati karena bunuh diri. Sedangkan, menurut data Riset kesehatan dasar (RISKESDAS), gangguan mental emosional yang ditandai dengan kecemasan dan depresi di Indonesia sebesar 14 juta jiwa dan menjadi penyebab utama terjadinya kecacatan. Beberapa jenis penyakit kesehatan mental di Indonesia yang sering dialami adalah gangguan depresi, cemas, skizofrenia, bipolar, gangguan perilaku, autis, gangguan perilaku makan, cacat intelektual, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Konsepsi yang salah tentang kesehatan mental

apa itu kesehatan mental

Kesehatan mental menurut WHO adalah keadaan di mana seseorang menyadari kemampuannya, dapat mengendalikan tekanan stres normal sehari-hari, dapat bekerja secara produktif, dan mampu berkontribusi kepada sekitar. WHO menekankan bahwa kesehatan mental lebih dari sekedar tidak ada gangguan mental, tetapi juga keinginan menjaga dan mencari kebahagiaan emosional.

Sayangnya, kesehatan mental di Indonesia masih dianggap aib bagi keluarga. Tidak jarang pasien berujung dikucilkan, dikurung, dan dipasung supaya tidak meresahkan warga sekitar. Stigma masih menyelimuti isu kejiwaan di Indonesia karena masih banyak menganggap gangguan jiwa akibat terkena sihir, kerasukan roh jahat, kekurangan iman, dan melanggar larangan adat. Stigma ini yang membuat banyak orang memilih untuk berobat dengan ahli spiritual.

Padahal, menurut WHO ada beberapa gangguan mental yang bisa disembuhkan atau diberikan terapi. Pilihan pengobatan bagi penderita gangguan jiwa adalah psikoterapi, rawat inap, support group, dan mengonsumsi obat-obatan tertentu. Meskipun belum bisa sepenuhnya disembuhkan, tapi perawatan tersebut dapat mencegah kondisi semakin memburuk dan berakibat fatal, antara lain rusaknya kognitif otak, memburuknya kualitas hidup, hingga kematian.

Cara mendapatkan kesehatan mental yang baik


Hidup di tengah pandemi tidak mudah bagi semua orang. Ketika gerak fisik terbatas, finansial terganggu karena kehilangan pekerjaan, dan munculnya keresahan karena pandemi tidak kunjung usai, sangat mudah seseorang terkena gangguan mental.

Maka dari itu jika Anda atau orang terdekat mulai muncul gejala depresi seperti susah tidur, sulit berkonsentrasi, pola makan terganggu, dan muncul rasa takut berlebihan, segera cari bantuan karena bisa jadi terkena penyakit kejiwaan.

Pentingnya kesehatan mental sama dengan menjaga kesehatan fisik. Selain dapat mengganggu konsentrasi dan fokus dalam menjalani kegiatan, juga dapat menyebabkan penyakit jantung atau sesak napas. Inilah mengapa penting mengelola stres sedini mungkin supaya gejala gangguan mental tidak meningkat menjadi depresi. Berikut langkah-langkah yang dapat menjaga kesehatan mental:

Menerima dan menghargai diri sendiri

Cara terbaik untuk mengabaikan seseorang yang ingin menjatuhkan anda adalah dengan menerima dan menghargai diri sendiri. Fokuslah mengembangkan kemampuan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain yang mengkritik dengan niat buruk. Ini akan mempermudah anda untuk terhindar dari overthinking yang bisa menimbulkan stres. Bentuk menghargai diri sendiri juga dapat berupa rajin merawat tubuh dengan mandi atau menggunakan skin care supaya tubuh menjadi bersih dan membuat percaya diri.


Menjaga hubungan sosial yang baik

Hindari merasa kesepian dan sendiri dalam waktu yang lama. Berinteraksilah dengan orang-orang yang mendukung anda dan berceritalah pada mereka mengenai emosi yang sedang dirasakan.


Aktif berkegiatan fisik

Berolahraga dapat menghasilkan zat endorfin yang memberikan perasaan bahagia pada tubuh. Mulailah dengan olahraga ringan seperti berjalan atau lari untuk membantu tubuh lebih rileks dan tidak stres.
Kegiatan fisik juga dapat berupa menjalani hobi untuk menyalurkan minat dengan cara bergabung komunitas. Bersama sekelompok orang dengan kesukaan yang sama bisa membantu anda berada pada situasi lebih baik.

Baca juga: Tren Bersepeda Saat New Normal


Istirahat cukup

Pastikan anda memiliki tidur sekitar 7-9 jam setiap harinya dengan jadwal yang teratur. Ketika bangun dalam keadaan segar, anda akan menjalani hari dengan pikiran positif.


Mengonsumsi makanan bergizi

Hindari makanan tinggi lemak dan kolesterol, serta minuman beralkohol dan tinggi gula untuk mendapatkan nutrisi yang baik bagi tubuh. Untuk menunjang tubuh yang bugar, anda juga bisa mengonsumsi vitamin dan suplemen. Kondisi fisik yang sehat akan membantu anda menjaga kesehatan mental. (NS)

Phychology Today. Diakses pada Agustus 2020. When Your Adult Child Breaks your Heart. https://www.psychologytoday.com/us/blog/when-your-adult-child-breaks-your-heart/201410/9-lifestyle-factors-can-affect-your-mental
World Health Organization. Diakses pada Agustus 2020. Mental Health. https://www.who.int/mental_health/en/
Medical New Today. Diakses pada Agustus 2020. Common Disorder. https://www.medicalnewstoday.com/articles/154543#common-disorders
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada Agustus 2020. https://pusdatin.kemkes.go.id/

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait Kesehatan